Identitas Buku :
Judul
: Cinta Di Ujung Sajadah
Penulis
: Asma Nadia
Penerbit : AsmaNadia Publishing
House
Tahun terbit : 2015
Tempat terbit : Kompleks Ruko D Mall Blok A No. 14 Jl. Raya
Margonda, Depok
Cetakan :
·
Pertama,
februari 2015
·
Kedua,
April 2015
·
Ketiga,
Juni 2015
·
Keempat,
Agustus 2015
·
Kelima,
Oktober 2015
Tebal buku :
viii + 328 halaman
ISBN : 978-602-9055-34-4
Sinopsis :
Namanya
Makky Matahari Muhammad
dan Cinta menyimpan nama itu dengan baik di kepalanya.
Bukan karena salam yang diucapkan lelaki itu saat pertama bertemu.
Tetapi karena kehadirannya membawa pelangi dalam hidup Cinta.
dan Cinta menyimpan nama itu dengan baik di kepalanya.
Bukan karena salam yang diucapkan lelaki itu saat pertama bertemu.
Tetapi karena kehadirannya membawa pelangi dalam hidup Cinta.
Belasan
tahun menjalankan hidup sebagai piatu, Cinta bahkan tidak tahu wajah ibunya.
Papa dengan sempurna melenyapkan setiap jejak perempuan terkasih itu. Saat Papa menikah dengan Mama Alia, dan membawa dua saudara tiri, Cinta makin tersisih.
Papa dengan sempurna melenyapkan setiap jejak perempuan terkasih itu. Saat Papa menikah dengan Mama Alia, dan membawa dua saudara tiri, Cinta makin tersisih.
Ketika
surga terenggut dari hari-hari Cinta, lelaki itu hadir.
Makky Matahari Muhammad yang humoris namun santun itu mengenalkannya pada dunia lain yang memberi kebahagiaan. Hingga sebuah rahasia besar belasan tahun terbongkar, dan Cinta harus menempuh perjalanan jauh yang memisahkan mereka.
Makky Matahari Muhammad yang humoris namun santun itu mengenalkannya pada dunia lain yang memberi kebahagiaan. Hingga sebuah rahasia besar belasan tahun terbongkar, dan Cinta harus menempuh perjalanan jauh yang memisahkan mereka.
Sejumlah komentar :
Novel yang mampu
memberikan porsi pada cinta, tanpa ada kedzaliman pada hati. Hingga cinta tak
kenal galau (Hamid Zanath Zayn)
Cerita cinta apik yang
lebar. Nggak melulu cinta sama sang Makky. Tapi juga cinta bunda dan keluarga,
sahabat, dan of course cinta kepada Allah make me love this book :D (Linbud
Binti Buyung)
Sungguh cerita yang
menguras air mata. Tak bosa membaca novel ini berulang kali. Mengajarkan
pembaca akan arti “surge di bawah telapak kaki ibu”. Menghibur sekaligus menjadi
teladan bagi pembaca untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan. (Ocha Thalib)
Cerita yang diulas
dalam novel ini begitu inspiratif dan sangat natural. Kisah cinta yang dibagi secara apik dalam
porsi yang wajar membuat novel ini begitu memukau dan terkesan sangat cantik.
Jika dilihat-lihat
alur kisahnya memang sangat mirip dengan Cinderella ataupun bawang putih, namun
tentu saja ada keunikan tersendiri yang membuat novel ini sangat begitu
digemari.
Kisah yang diangkat
berlatar kehidupan sehari-hari para remaja, persahabatan yang di lakoni “Cinta”
sang tokoh utama sangat begitu kental disini. Karakter yang dibangun diantara
Neta, Aisyah dan Cinta saling melengkapi satu sama lain. Saling membantu dan
menyemangati merupakan nilai-nilai plus dalam kisah ini yang tampaknya kurang
di sadari.
Kehadiran Mbok Nah
sebagai tokoh tritagonis sangat membantu berlangsungnya alur kisah perjuangan
Cinta. Beliau ditempatkan sebagai orang bijak dan pengganti sosok ibu untuk
Cinta sendiri benar-benar membuat semakin terkesan.
Namun, pembaca juga
terkadang dibuat gemas dengan kehadiran Anggun dan Cantik yang menghiasi wara-wiri
konflik dalam novel. Apalagi saat adegan ‘tertentu’ (saya tidak bisa
membocorkan kisahnya, takut spoiler hehe)
membuat perasaan empati saya pun ikut tergugah. Hanya saja, yang membuat saya
semakin tercengang lagi saat bunda Asma Nadia menyelesaikan permasalahan Cinta
dengan inisiatifnya untuk berjilbab.
Saya akui kecerdikan
dan kekreatifan mba Asma Nadia dalam memberikan adegan-adegan sederhana
benar-benar membuat novel-novelnya yang sederhana ini tidak memiliki kesan
dramatis. Dengan pengalaman yang begitu banyak, dan jam terbang yang tinggi
membuatnya semakin menghasilkan karya yang berisi dan berbobot. Nilai-nilai
spiritual yang tersebar setiap paragraph tidak terkesan memaksa bahkan
menggurui.
Semua alur cerita
terlihat dibiarkan mengalir secara alami. Ditambah lagi perbendaharaan kata dan
penyusunan kalimat yang tinggi membuat semua kesederhanaan menjadi kata Wah!
Hanya ada satu yang
kurang di hati saya. Entah ini dirasakan oleh yang lainnya atau tidak, tapi
saya tetap kecewa dengan narasi ending yang dibiarkan menggantung.
Atau mungkin ini
sebagian dari cirri khas beliau?
0 Comments
Nama :
Pesan & Kesan